Minggu, 06 Januari 2013

para pengarang BALAI PUSTAKA


3. Para pengarang Balai Pustaka
Kalau buku-buku kumpulan sajak kebanyakan diterbitkan oleh penerbit-penerbit swasta, maka roman-roman masih tetap terutama diterbitkan oleh Balai Pustaka. Bahkan para pengarang tokoh pujangga baru seperti Sutan Takdir Alisjahbana pun menerbitkan roman-romannya pada Balai Pustaka. Pengarang yang sudah pernah menerbitkan buah tangannya pada tahun dua puluhan, banyak yang mendapat kesempatan lebih luas pada kurun waktu tiga puluhan, misalnya Nur Sutan Iskandar dan Tulis Sutan Sati. Dalam pada itu pengarang-pengarang barupun muncul sebagai pengarang roman yang penting seperti Igusti Nyoman Pandji;Tisna, Suman Hs, Aman Dt. Madjoindo dan lain-lain.
Apabila pada masa tahun dua puluhan para pengarang yang menulis roman yang diterbitkan oleh Balai Pustaka itu kebanyakan orang Sumatera, maka tidaklah demikian pada masa tiga puluhan. Hal seperti itu pun kelihatan pada perkembangan para pengarang dalam lingkungan pujangga baru seperti telah pernah kita singgung. Memang masih banyak pengarang yang berasal dari Sumatera dibandingkan dengan yang datang dari daerah lain, namun jumlah yang datang dari daerah lainpun kian hari kian berkembang juga.

A.Nur Sutan Iskandar
Nur Sutan Iskandar lahir di Maninjau tahun 1893 adalah pengarang Balai Pustaka dalam arti yang sesungguhnya. Karena minat dan perhatiannya kepada dunia karang-mengarang, meninggalkan kedudukannya sebagai guru dan melamar ke Balai Pustaka. Tahun 1919 ia bekerja sebagai korektor redaksi Melayu, kemudian menjadi anggota redaksi dan kepala redaksi Balai Pustaka sampai pensiun. Selama bekerja disana, Nur Sutan Iskandar telah mengarang, menerjemahkan, menyusun, menyandur dan memperbaiki berpuluh-puluh naskah sampai menjadi buku.
Romannya yang pertaman berjudul Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1922) diterbitkan oleh sebuah penerbit swasta. Tetapi buku-bukunya yang kemudian semuanya/pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka. Bukunya yang kedua ialah sebuah roman pula yang dikerjakannya dari naskah Abd. Ager, berjudul Cinta yang Membawa Maut (1926). Bukunya yang pertama yang mulai menarik hati adalah Salah Pilih(1928). Dalam roman ini dikupas olehnya tentang keburukan perkawinan Asri dengan Saniah. Saniah dipilih Asri karena pandai berbahasa Belanda tetapi kepandaian dan keturunan bangsawan malah memberikan sifat sombong kepada Saniah. Saniah akhirnya mati dan Asri kawin dengan gadis idamannya sejak masih kecil, yaitu Asnah, pengarang dengan bukunya ini mengkritik berbagai keburukan adat Minangkabau, antaranya yang melarang kawin dengan saudara sepersukuan dan yang suka membanggakan keturunan.
Roman karangan Nur Sutan Iskandar yang terpenting adalah Hulubalang Raja(1934), yang merupakan sebuah roman sejarah yang dikerjakan berdasarkan sebuah disertasi H.Kroeskamp Dc Westkust en Minangkabau (1665-1668) pantai barat dan minangkabau, (1665-1668 terbit 1931)
Roman Cinta Tanah Air (1944), yang ditulis Sutan Iskandar pada jaman Jepang, merupakan suatu kegagalan dan hanya merupakan suatu roman propaganda Jepang yang murah saja. Lebih baik tetapi masih dalam suasana propaganda juga adalah roman Mutiara(1946) yang merupakan roman sejarah perjuangan wanita Aceh dalam menghadapi Belanda. Tetapi bila dibandingkan dengan Hulubalang Raja, Mutiara ini kurang meyakinkan karena kurangnya pendalaman sejarah dan kejiwaan. Demikian juga dengan roman berikutnya yang berjudul Cobaan (1946) dan Jangir Bali(1946), tidak mencapai nilai yang dicapai karangan-karangannya sebelum perang.
Karangan Nur Sutan Iskandar yang perlu disebutkan disini adalah Pengalaman Masa Kecil(1949) dan Ujian Masa(1942). Keduanya merupakan karangan otobiografis. Pengalaman Masa Kecil menarik hati, melukiskan pengalaman-pengalamannya sampai dia berusia kurang lebih 15tahun, ketika ia mulai mengajar di sekolah desa pada tahun 1908. Terutama karena di dalamnya ia melukiskan kehidupan kampung Minangkabau, Ujian Masa lebih merupakan catatan-catatan tentang peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di Indonesia sejak aksi militer Belanda pertama sampai awal 1948.

B. I Gusti Njoman Pandji Tisna
            Dalam tahun 1935 oleh Balai Pustaka diterbitkan sebuah roman berjudul Ni Rawit Ceti Penjual Orang yang melukiskan kebengisan masyarakat feodal di Bali. Buku ini dikarang oleh I Gusti Njoman Pandji Tisna yang kemudian menjadi Anak Agung Pandji Tisna, putera bangsawan Bali yang lahir di Singaraja tahun 1908. Roman ini adalah roman pertama yang melukiskan kehidupan masyarakat Bali yang ditulis oleh putera Bali sendiri dalam bahasa Indonesia. Dibandingkan dengan roman-roman yang ditulis oleh pengarang kelahiran Sumatera, roman buah tangan I Gusti Njoman Pandji Tisna ini terasa lebih hidup dan lebih lebih cepat  geraknya.
            Tokoh-tokohnya pun lebih keras dan kejam. Roman ini kemudian disusul oleh roman Pandji Tisna yang kedua, berjudul Sukreni Gadis Bali (1963) yang juga melukiskan kehidupan masyarakat Bali yang keras dan kejam. Seorang ibu yang hanya mengingat keuntungan materi yang bakal diperolehnya secara tidak sadar telah menjual anak gadisnya sendiri. Nasib yang malang ini merupakan hukum karma terhadap tingkah lakunya sendiri dimasa lampau. Dalam roman ini pun terdapat kritikan pengarangnya yang tidak setuju kepada beberapa cara dan kepercayaan yang ketika itu masih hidup dalam masyarakat Bali. Pandji Tisna memang terkenal sebagai seorang putera Bali yang mempunyai cita-cita hendak mengubah keadaan masyarakat Bali yang terbelakang dan menyedihkan.
            Intrik keraton dan berbagai-bagai kebiasaan raja-raja Bali dilukiskan pengarang dalam bukunya I Swasta Setahun di Bedahulu(1938). Pola kehidupan Bali di mana hukum karma menguasai nasib seseorang menjadi dasar cerita ini. I Swasta, keturunan Manorbawa harus berkorban dan mengalah pada I Lastya dalam bercintakan I Nogati karena dahulu Manorbawa telah merebut kekasih sahabatnya I Kulup Bok yang merupakan leluhur I Lastya. Dosa kakeknya harus ditebus oleh I Swasta yang sebenarnya tak rahu-menahu tentang hal itu.
            Disamping roman yang diterbitkan di Balai Pustaka itu, Pandji Tisna masih menerbitkan roman pula. Pada masa sebelum perang, di Medan terbit romannya yang berjudul Dewi Karuna(1938). Dan sehabis perang ia menerbitkan sebuah roman pula yang berjudul I Made Widiadi (kembali kepada Tuhan). Roman yang terbit tahun 1954 ini dikarang penulisnya setelah memeluk agama kristen.

C. Tulis Sutan Sati
                  Tulis Sutan Sati telah menerbitkan buku sejak 1928, yaitu sebuah roman berjudul Sengsara Membawa Nikmat yang merupakan romannya yang pertama. Kemudian ia menerjemahkan kaba’ sabai nan aluih (1929) yang ditulis oleh M. Thaib Gelar St Pramuntjak dalam bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia. Iapun menuliskan dua buah syair. Yang pertama berjudul Syair Siti Marhumah yang Saleh(1930) dan yang kedua syair Rosina(1933) yang dikerjakannya berdasarkan suatu kisah yang benar-benar terjadi di kota Betawi, dipetik dari buah karangan seorang wartawan terkenal bernama F.D.J Pangemanan. Disamping itu masih menulis tiga buah roman lagi, yaitu Tak Disangka(1929), memutuskan Pertalian(1932) dan Tidak Membalas Guna(1932).

D. Paulus Supit
                  Paulus Supit seorang pengarang berasal dari Menado menulis sebuah roman tentang perjuangan sebuah keluarga yang taat beragama dalam menghadapi berbagai ranjau kehidupan, berjudul Kasih Ibu (1932). Buku ini menarik karena daerah asal pengarangnya dan yang dilukiskannya pun adalah kehidupan sebuah keluarga sederhana di Tomoholon.

4.  Para Pengarang Wanita 
                  Para pengarang wanita Indonesia jumlahnya tidak banyak, apalagi pada masa sebelum perang. Yang paling terkenal dan paling penting ialah Selasih atau Seleguri, keduanya nama samaran Sariamin (lahir di Talu, Sumatera Barat, tahun 1909) yang menulis dua buah roman dan sajak-sajak. Kedua buah roman itu adalah Kalau Tak Untung(1933) dan Pengaruh Keadaan (1937). Sajak-sajaknya banyak dimuat dalam majalah Poedjangga Baroe dan Pandji Poestaka.
                  Kehidupan yang penuh penderitaan dan kemelaratan agaknya menjadi minat pengarang wanita ini. Kalau Tak Untung melukiskan percintaan dua orang anak yang bersahabat sejak masih kecil, sama-sama sekolah dan sama-sama pula hidup dalam tak berkecukupan. Cinta Masrul dan Rusmani yang sudah tertanam dan tumbuh sejak masih kanak-kanak itu tidak berkesampaian. Dalam pengaruh keadaan dikisahkannya kesengsaraan dan kemalangan seorang gadis bernama Yusnani yang hidup dalam tekanan ibu tirinya, ia kehilangan akan rasa kepercayaan dirinya. Tetapi sekali ini kemalangan dan kesengsaraan si gadis berakhir bahagia, yaitu setelah diambi oleh saudaranya dan ditolong oleh saudaranya yang bernama Syahruddin yang kemudian mengambilnya sebagai isteri.
                  Pengarang wanita lain yang juga mengarang roman adalah Hamidah yang merupakan nama samara Fatimah H. Delais(1914-1953) yang pernah namanya tercantum sebagai pembantu majalah Poedjangga Kehilangan Mestika (1935).  Juga pengarang wanita ini agaknya seorang yang suka bersedih-sedih. Yang diceritakannya dalam roman ini adalah kemalangan dan penderitaan pelakunya, seorang gadis yang mula-mula kehilangan ayah dan kemudian kehilangan kekasih berturut-turut. Karena putus asa akhirnya ia menyetujui dikawinkan dengan seorang yang tidak dicintainya. Perkawinan itu pun malang, karena bertahun-tahun tak juga kunjung mempunyai anak, sehingga terpaksa akhirnya ia memberikan izin kepada suaminya untuk mengambil isteri lain.
                  Adlin Affandi dan Sa’adah Alim (1898-1968) masing-masing menulis sebuah sandiwara, masing-masing berjudul Gadis Modern (1941) dan Pembalasannya. Sa’adah Alim disamping itu menulis pula sejumlah cerpen yang kemudian dibukukan dengan judul Taman Penghibur Hati (1941). Ia pun menerjemahkan Angin Timur Angin Barat buah tangan pengarang wanita berkebangsaan Amerika yang pernah mendapat hadiah nobel 1938, ialah Pearl S.Buck (lahir 1892). Disamping itu ia pun banyak lagi menerjemahkan buku-buku lain.
                  Pada saat-saat menjelang Jepang datang, muncul pula Maria Amin yang dilahirkan di Bengkulu tahun 1920 yang menulis sajak-sajak dalam majalah Poedjangga Baroe, tetapi peranannya lebih berarti pada masa Jepang ketika ia menulis dan mengumumkan beberapa prosa lirik yang simbolistis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar