Follow by Email

Minggu, 06 Januari 2013

LAPORAN OBSERVASI MENGAMATI GURU MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VII DAN VIII SEMESTER 1 SMP PGRI BOJONEGARA DENGAN KOMPONEN PENDEKATAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA


LAPORAN OBSERVASI

MENGAMATI GURU MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VII DAN VIII SEMESTER 1 SMP PGRI BOJONEGARA
 DENGAN KOMPONEN PENDEKATAN        
STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA














ANGGOTA KELOMPOK:

DEDE PRATIWI SUSILOWATI      2222101678
                                   
Kelas III D

Diksatrasia



UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
2011/2012





PENDAHULUAN
Guru adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Citra guru berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan dan perubahan konsep dan persepsi manusia terhadap pendidikan dan kehidupan itu sendiri. Profesi guru pada mulanya dikonsep sebagai kemampuan memberi dan mengembangkan pengetahuan peserta didik. Dalam suatu sekolah yang apabila program pendidikan tersebut bertujuan agar siswanya mencapai perkembangan optimal sebagai individu dan makhluk sosial, maka pendidikan di sekolah itu tidak cukup dengan memberikan program kurikulum mata pelajaran saja, tetapi mata pelajaran tersebut harus diajarkan dan diatur dengan cara yang baik, sedangkan jika siswa menghadapi masalah dalam rangka penyelesaian program pendidikan di sekolah, dimana masalah itu tidak hanya terbatas masalah mengenai pelajaran, maka sekolah perlu mengadakan usaha untuk membantu siswa dalam memecahkan masalahnya. Siswa sebagai anak didik dalam kehidupannya tidak terlepas dari berbagai macam masalah apakah itu masalah internal atau masalah eksternal siswa, baik masalah yang ringan maupun masalah yang berat, semuanya memerlukan pemecahan sebagai jalan keluarnya. Kita ketahui bahwa tidak semua orang mampu memecahkan masalahnya sendiri, baik orang dewasa terlebih lagi anak yang masih dalam taraf perkembangan menuju kedewasaan, maka orang dewasalah yang dapat membimbing dan membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.
Jadi jelas bahwa dalam kegiatan belajar mengajar biasanya banyak masalah yang timbul terutama dirasakan oleh siswa. Guru mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membantu siswa agar berhasil dalam belajarnya. Untuk itu hendaknya guru memberikan bantuan kepada siswa untuk mengatasi masalah yang timbul dalam proses kegiatan belajar mengajar. Disini letak pentingnya guru sebagai pendidik untuk membantu siswa agar dapat berhasil dalam pelajaran sehingga proses belajar mengajar berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Pendekatan-Pendekatan Guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa.
Pengertian Belajar menurut C.T. Morgan dalam buku Introduction To Psychology (1961), Belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat / hasil dari pengalaman yang lalu. Ringkasnya ia mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.Siswa mengalami suatu proses belajar.
Dalam proses belajar tesebut, siswa menggunakan kemampuan mentalnya untuk mempelajari bahan belajar. Kemampuan-kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dibelajarkan dengan bahan belajar menjadi semakin rinci dan menguat. Adanya informasi tentang sasaran belajar, adanya penguatan-penguatan, adanya evaluasi dan keberhasilan belajar, menyebabkan siswa semakin sadar, akan kemampuan dirinya.
Pengertian Mengajar Jerome S. Brunner dalam bukunya Toward a theory of instruction mengemukakan bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (1998: 150) mengemukakan yang dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapan-kecakapan atau keterampilan-keterampilan kepada anak-anak.

















HASIL OBSERVASI
A.FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN
a. Konten isi pembelajaran
Pembelajaran yang akan dipelajari : menyimak, berbicara, membaca, menulis
b. Bahan
Bahan rencana pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara VII/1:
1.      menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat yang diambil bahannya dari TV/radio/ kaset cd berita
2.      menuliskan kembali berita yang dibacakan kedalam beberapa kalimat yang bahannya diambil dari teks berita, TV/radio/ kaset cd berita.
3.      menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan kata yang efektif yang bahannya diambil dari buku teks siswa atau pengalaman pribadi siswa yang mengesankan.
4.      menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat lugas yang bahannya diambil dari selebaran pengumuman lingkungan/ buku teks.
5.      menemukan makna kata tertentu dalam kamus secara cepat dan tapat sesuai dengan konteks yang diinginkan melalui kegiatan membaca dan memindai yang bahannya diambil dari kamus istilah atau KBBI, buku bacaan teks nonsastra.
6.      Memenuhi hal-hal menarik dari dongeng yang yang diperdengarkan yang bahannya diambil dari buku teks, buku bacaan.
7.      Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gesture, dan mimic yang tepat yang bahannya diambil dari buku teks.
Bahan rencana pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara kelas VIII/1:
1.      Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi atau buku telepon dengan membaca memindai yang bahannya diambil dari ensiklopedi dan buku telepon
2.      Menulis surat dinas berkaitan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa yang baku yang bahannya diambil dari buku surat menyurat seperti surat dinas sekolah.
3.      Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara yang bahannya diambil dari rekaman wawancara narasumber.
4.      Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif yang bahannya diambil dari model-model petunjuk.
5.      Menganalisis laporan yang bahannya diambil dari kumpulan teks laporan, rekaman laporan.
6.      Menanggapi isi laporan yang bahannya diambil dari teks laporan narasumber siswa
7.      Menulis laporan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar yang bahannya diambil dari kegiatan pentas seni, contoh laporan kegiatan
8.      Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar yang bahannya diambil dari kumpulan teks laporan
9.      Mendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks yang sebenarnya dengan yang tertera pada denah yang bahannya diambil dari denah dan peta
10.  Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar yang bahannya diambil dari kumpulan teks laporan
11.  Membuat synopsis novel remaja yang bahannya diambil dari novel remaja Indonesia
c. Strategi pembelajaran
Untuk dapat melaksanakan proses belajar mengajar yang efektif, ada beberapa strategi mengajar yang dilakukan oleh guru bidang studi bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara, yakni:
 (1). Menciptakan pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah dan pemecahannya.
Guru bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara menciptakan pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah dan pemecahannya. Pada saat proses belajar mengajar dikelas, setelah guru menjelaskan materi lalu guru membuat pertanyaan-pertanyaan, masalah-masalah dan pemecahannya sendiri. Lalu guru melontarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada siswa. Diharapkan dengan cara tersebut siswa dapat lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru dan tetap menginggatnya.
(2). Mengajak siswa untuk saling berinteraksi.
Guru mengajak siswa untuk saling berinteraksi dan berdiskusi. Misalnya ada sebuah materi, dan ada sebuah kasus, maka siswa diajak untuk saling berinteraksi, berdiskusi dengan cara berkelompok. Misalnya ada materi tentang memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengar berita seperti yang ada pada standar kompetensi kelas VII/1. Maka guru bahasa Indonesia mengajak para siswa untuk membentuk sebuah kelompok dalam satu kelas dibagi beberapa kelompok. Dan mereka diajak berdiskusi dan menyampaikan pendapat mereka masing-masing lalu kemudian dipaparkan kembali untuk didiskusikan bersama kelompok lain untuk pada akhirnya dibuat kesimpulan dari diskusi tersebut. Sebab menurut Piaget, pertukaran gagasan tidak dapat dihindari untuk perkembangan penalaran. Walaupun penalaran tidak dapat di-ajarkan secara langsung, per-kembangkannya dapat distimulasi melalui interaksi dengan siswa pada tingkat yang sama.
(3). Menggunakan istilah teknis.
Hasil searching di google beberapa waktu yang lalu kami menemukan statement penelitian mengungkapkan bahwa bahasa dapat memperjelas dan memperkaya gagasan/ide para siswa pada tingkat perkembangan yang tinggi. Tetapi istilah-istilah teknis dalam pembelajaran seringkali merintangi alam fikir mereka karena mereka terpaku pada satu istilah saja tanpa memahami konsep dasar istilah tersebut. Namun guru bahasa Indonesia di SMP PGRI Bojonegara menggunakan istilah teknis dalam pembelajaran bahasa Indonesia dikelas. Guru menyuruh siswa mencari kata yang sulit yang ditemukan dalam sebuah wacana yang ada dibuku paket, ataupun di Koran harian, atau dari mana saja, lalu siswa disuruh mencari makna dari kata sulit tersebut dikamus bahasa Indonesia yang mereka bawa sebelumnya dari rumah.
(4). Menganjurkan siswa berpikir dengan cara mereka sendiri.
Guru menganjurkan siswa berfikir dengan cara mereka sendiri, siswa boleh mengutarakan pendapat mereka sebebas mungkin namun sesuai dengan batasan yang ada tanpa mengurangi nilai esensi dari demokrasi siswa. Pada SMP PGRI Bojonegara guu memancing siswa untuk menjelaskan suatu materi yang belum guru jelaskan sebelumnya. Misalnya dalam materi ragam teks nonsastra meteri kelas VII/1, sebelum guru menjelaskan apa saja yang masuk kedalam materi ragam teks nonsastra, guru bertanya terlebih dahulu kepada para siswa apa saja sih yang masuk dalam ragam teks nonsastra. Guru memancing terlebih dahulu, membiarkan siswa mengemukakan pendapat mereka sendiri. Lalu baru guru menjelaskan materinya, menambahkan yang siswa kemukakan, atau mengoreksi apabila ada kesalahan dalam pendapat siswa.
(5) Perkenalan ulang (reintroduce).
Guru SMP PGRI Bojonegara sebelum memulai suatu materi baru, guru mereview kembali apa saja yang sudah diulas pada pertemuan sebulumnya dengan cara menanyakan pada anak didik mengenai materi apa saja yang sudah diulas sebelumnya. Hal itu dilakukan agar para siswa tetap mengingat materi dan tidak melupakannya pada saat melanjutkan materi baru.
d. Prilaku guru
Pada saat proses belajar mengajar dikelas, guru bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara sengaja bersikap ramah kepada setiap anak, guru melakukan pendekatan psikologis terhadap setiap siswa secara personal maupun tidak. Apalagi SMP PGRI Bojonegara ini letaknya disebuah desa Bojonegara yang bisa dibilang hubungan antara murid dan guru lumayan dekat secara personal karena sekolah ini merupakan sekolah yang ada didesa, dengan sifat masyarakat desa itu pada dasarnya adalah homogen, berbeda dengan dikota yang masyarakatnya bersifat heterogen. Sehingga memudahkan guru melakukan pendekatan kepada para siswa agar dapat lebih memahami karakter sikap masing-masing siswa. Hal itu dilakukan agar siswa merasa nyaman pada pelajaran bahasa Indonesia, sebab apabila siswa sudah merasa nyaman pada seorang guru, maka meraka akan menyukai pula mata pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dari yang kami perhatikan nampaknya guru lebih memperhatikan siswa yang duduk dibangku belakang, sebab  siswa yang duduk dibelakang biasanya suka sekali mengantuk, dan tidak memperhatikan pelajaran. Maka sebab itu apabila guru membuat sebuah pertanyaan, maka yang dilontarkan terlebih dahulu adalah para siswa yang duduk dibagian belakang. Hal itu akan menyebabkan siswa fokus kepda pelajaran yang diberikan guru dikelas.
e. Menstrukturkan pembelajaran
Guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI Bojonegara menstrukturkan pembelajaran dengan 3 bagian, yakni:
1.      pembukaan : melakukan salam, dilanjutkan dengan melontarkan pertanyaan apakah siswa masih mengingat materi sebelumnya, lalu mereview materi yang sudah diulas pada pertemuan sebelumnya.
2.      Inti : setelah selesai mereview materi pada pertemuan sebelumnya, kemudian guru masuk kedalam materi baru. Namun sebelumnya guru bertanya apakah sudah ada yang membaca materi baru ini dirumah, guru sengaja memancing pertanyaan-pertanyaan agar siswa aktif dikelas. Lalu setelah itu baru guru menjelaskan materi yang harus disampaikan tersebut.
3.      Penutup : setelah pemberian materi selesai, guru memberikan tugas sesuai dengan materi, lalu kemudian guru menutup pertemuan dengan mengucapkan salam.
f. Lingkungan belajar
Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil dari proses belajar.
Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) dalam Kusmoro (2008), lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interkasi yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Mulyasa (2006), dalam upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, guru harus dapat memberikan kemudahan belajar kepada siswa, menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai, menyampaikan materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Oleh karena itu, peran guru selayaknya membiasakan pengaturan peran dan tanggung jawab bagi setiap anak terhadap terciptanya lingkungan fisik kelas yang diharapkan dan suasana lingkungan sosial kelas yang menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna. Dengan terciptanya tanggung jawab bersama antara anak dan guru, maka akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif dan bersinergi bagi semua anak (Kusmoro, 2008).
Di SMP PGRI Bojonegara ini lingkungan belajar untuk pelajaran bahasa Indonesia sudah cukup kondusif. Walaupun tidak ada hal yang sempurna didunia ini, namun kami rasa sudah cukup baik. Dalam mengorganisasikan ruang fisik kelas, juga sangat ditentukan oleh tipe aktivitas pembelajaran yang direncanakan untuk dilaksanakan oleh anak. Dalam hal ini, perbedaan level kelas, kecepatan materi antar kelas, aktivitas kelompok dan aktivitas individual harus dapat terakomodasi secara fleksibel dalam penataan lingkungan fisik kelas. Menurut Renne (2007) dalam Santrock (2008), penataan kelas standar dapat dilakukan dalam lima gaya penataan, yaitu auditorium, tatap-muka, off-set, seminar, dan klaster.
  1. Gaya auditorium, gaya susunan kelas di mana semua siswa duduk menghadap guru.
  2. Gaya tatap muka, gaya susunan kelas di mana siswa saling menghadap.
  3. Gaya off-set, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.
  4. Gaya seminar, gaya susunan kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
  5. Gaya klaster, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.
SMP PGRI Bojonegara sendiri menggunakan gaya auditorium yang gaya penyusunan kelas dimana semua siswa duduk menghadap guru. Dengan penataan bangku, kursi murid menghadap kearah guru dan papan tulis. Hal itu dilakukan agar perhatian siswa fokus kepada guru dan tidak terpecah ke hal yang lain. Dan hal itu sudah terbukti berhasil karena menjadi gaya penataan kelas yang popular di Indonesia dan menyebabkan siswa fokus ke guru.
Menurut Weinstein dan Mignano (1997) dalam santrock (2008), kelas juga penting untuk dilakukan personalisasi, meskipun bagi sekolah yang menggunakan sistem moving class terdapat beberapa kelas yang belajar dalam satu hari. dan SMP PGRI Bojonegara ini tidak melakukan moving class Karena menganggap system ini belum tepat dilakukan di sekolah ini karena memakan waktu cukup lama hanya untuk perpindahan siswa ke kelas lain pada saat pergantian pelajaran.
Sedangkan untuk pengelolaan kelas yang positif untuk pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI Bojonegara menggunakan gaya manajemen kelas otoritatif berasal dari gaya parenting, di mana guru yang otoritatif akan mempunyai siswa yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Strategi manajemen kelas otoritatif, mendorong siswa untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen, tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring siswa. Guru otoritatif akan menjelaskan aturan, regulasi dan  menentukan standar dengan masukan dari siswa.
g. Pembelajar   
Para pembelajar mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI Bojonegara umumnya adalah anak-anak yang juga tinggal didaerah Bojonegara dan beberapa daerah sekitarnya. Dengan kisaran umur 13-14tahun untuk siswa kelas VII dan kisaran umur 14-15tahun untuk kelas VIII. Kebanyakan  dari siswa berjenis kelamin perempuan dan sisanya lelaki dengan perbandingan sekitar 60:40 antara siswa perempuan dan lelaki.
h. Durasi pembelajaran
Kelas VII semester 1 SMP PGRI Bojonegara
No.
Kompetensi dasar
Alokasi pembelajaran
1.

Menyimpulkan isi berita yang dibacakan dalam beberapa kalimat.
2x40

2.

Menuliskan kembali berita yang dibacakan kedalam beberapa kalimat.
2x40

3.
Menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan kata yang efektif.
6x40
4.

Menyampaikan pengumuman dengan intonasi yang tepat serta menggunakan kalimat lugas.
6x40

5.
menemukan makna kata tertentu dalam kamus secara cepat dan tapat sesuai dengan konteks yang diinginkan melalui kegiatan membaca dan memindai.
2x40
6.

7.
Memenuhi hal-hal menarik dari dongeng yang yang diperdengarkan.
Bercerita dengan urutan yang baik, suara, lafal, intonasi, gesture, dan mimic yang tepat.
2x40

6x40








Kelas VIII semester 1 SMP PGRI BOJONEGARA



No.
Kometensi dasar
Alokasi waktu
1.


Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi atau buku telepon dengan membaca memindai
4x40



2.

.

Menulis surat dinas berkaitan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa yang baku
2x40

3.

Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
4x40


4.

Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif.
4x40

5.
Menganalisis laporan
4x40
.6.
Menanggapi isi laporan
4x40
7.
8.

Menulis laporan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar
Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar
4x40

4x40

9.

Mendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks
yang sebenarnya dengan yang tertera pada denah
4x40
10.
Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar

2x40
11.
 Membuat synopsis novel remaja
2x40













i. lokasi pembelajaran
Lokasi pembelajaran dilakukan di SMP PGRI Bojonegara yang terletak di jalan id ris no 2 kecamatan  Pulo Ampel, kelurahan pulo Ampel, kabupaten serang.
B.KARAKTERISTIK GURU
Ada beberapa yang harus dilakukan guru agar efektif belajar:
1.      Apakah guru melakukan review harian : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara memberikan PR kepada siswa di setiap akhir pertemuan, hal itu dilakukan guna siswa tetap mengingat materi yang sudah guru berikan. Dan juga melakukan pertanyaan guna mereview materi pada pertemuan sebelumnya.
2.      Apakah guru menyiapkan materi baru : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara selalu menyiapkan materi baru setelah materi pada pertemuan sebelumnya telah selesai.
3.      Apakah guru melakukan praktik terbimbing : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara membimbing para peserta didiknya. Dia memberitahu kepada siswa mana yang benar dan mana yang salah dalam setiap materi yang diajarkannya melalui pemberian contoh yang ditulis dipapan tulis maupun berdasarkan latihan soal yang ada dibuku.
4.      Apakah guru menyiapkan balikan dan koreksi : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara selalu bertanya disetiap pertemuan, apakah para pembelajar mengerti atau tidak dengan materi yang disampaikan. Apabila ada yang tidak mengerti maka guru melakukan penjelasan umum ulang dengan memancing siswa lain untuk turut menjelaskan materi. Agar kelas kondusif dan aktif.
5.      Apakah guru melaksanakan praktik mandiri : guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMP PGRI Bojonegara memberikan tugas individu dan juga kelompok, serta memberikan PR kepada para siswa. Biasanya tugas individu diberikan agar siswa makin paham dengan materi yang sudah diberikan guru, agar siswa tidak lupa. Dan tugas kelompok diberikan kepada siswa dengan pembagian jumlah yang merata, dan tugas kelompok diberikan waktu yang lebih lama daripada tugas individu maupun PR.
C.PENDEKATAN
Pendekatan pengajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI bojonegara adalah Pendekatan Komunikatif . Menurut David Nunan (1989) dalam Solchan T.W.,dkk (2001:66). pembelajaran bahasa hendak dibelajarkan menggunakan pendekatan komunikatif. Dimana pendekatan komunikatif berdasarkan teori bahasa adalah suatu system untuk mengekspresikan suatu makna, yang menekankan fasa dimensi semantik dan komunikatif daripada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karna itu yang perlu ditonjolkan adalah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.
Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah teori pemerolehan bahasa ke dua secara alamiah. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara alamiah sehingga proses belajar bahasa lebih efektif dilakukan melalui komunikasi langsung dalam bahasa yang dipelajari. Kebutuhan siswa yang utama dalam belajar bahasa berkaitan dengan kebutuhan berkomunikasi maka tujuan umum pembelajaran bahasa adalah untuk mengembangkan siswa untuk berkomunikasi. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif siswa dihadapkan pada situasi komunikasi nyata , seperti tukar menukar informasi, negoisasi makna atau kegiatan lain yang sifatnya riil. Dalam pendekatan komunikatif peran guru hanya bersifat memfasilitasi proses komunikasi , partisipan tugas dan teks, menganalisa kebutuhan, konselor dan manajer pembelajaran.
Sementara siswa berposisi pada pemberi dan penerima, negosiator, dan interaktor sehingga siswa tidak hanya menguasai bentuk-bentuk bahasa, tetapi bentuk dan maknanya dalam kaitannya dengan konteks pemakaian. Materi yang disajikan dalam peranan sebagai pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi nyata. Menurut pendekatan komunikatif metode yang tepat diterapkan adalah metode komunikatif itu sendiri dengan uraian teknik seperti yang diuaraikan dalam Santosa, dkk yang dipetik dari Tarigan yang disarikan dari Solchan, dkk. (2001) berikut ini,

 1. Teknik pelajaran menyimak,
2. Teknik pembelajaran berbicara, 
3. Teknik pembelajaran membaca,
4. Teknik pembelajaran menulis. 
Sementara teknik evaluasi untuk pendekatan ini adalah tes diskrit yaitu
1. Tes yang bersifat terpisah antar aspek kebahasaan.
2. Tes integratif yaitu tes yang memadukan semua aspek kebahasaan pada suatu tes evaluasi yang bersifat tercampur.
3. Tes pragmatik yaitu kemampuan siswa dalam menggunakan elemen-elemen kebahasaan dalam konteks situasional tertentu sebagai tolak ukurnya. Beberapa jenis tes pragmatis adalah, dikte, berbicara, parafrase, menjawab pertanyaan, dan teknik rumpang
D.PENGELOLAAN KELAS
Pengelolaan kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan kelas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya adalah “kelola”, ditambah awalan “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain dari pengelolaan adalah “manajemen”. Manajemen adalah kata yang aslinya dari bahasa Inggris, yaitu management yang berarti ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.(Djamarah2006:175)
“Pengelolaan adalah proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan”Dekdibud (dalam Rachman 1997:11). Pengelolaan dalam pengertian umum menurut Arikunto (dalam Djamarah 2006:175) adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan.
 Menurut Hamalik (dalam Djamarah 2006:175) ”kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru” sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas ialah ruangan belajar dan atau rombongan belajar” Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut, yaitu:
1. Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat \ perkembangan yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan (Djamarah2006:176).
“Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.” (Mulyasa2006:91). Sedangkan menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:177) ”Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.” Ditambahkan lagi oleh Nawawi (dalam Djamarah 2006:177) ”Manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap \ personal untuk melakukan kegitan-kegiatan yang kreatif dan terarah .” Arikunto (dalam Djamarah 2006:177) juga berpendapat “ bahwa penelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agardicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar yang seperti \ diharapkan.” Pengelolaan dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik (ruangan, perabot, alat pelajaran). Ruang Kelas adalah suatu ruangan dalam bangunan sekolah, yang berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan tatap muka dalam proses kegiatan belajar mengajar(KBM). Mebeler dalam ruangan ini terdiri dari meja siswa, kursi siswa, meja guru, lemari kelas, papan tulis, serta aksesoris ruangan lainnya yang sesuai. Ukuran yang umum adalah 9m x 8m. Ruang kelas memiliki syarat kelayakan dan standar tertentu, misalnya ukuran, pencahayaan alami, sirkulasi udara, dan persaratan lainnya yang telah dibakukan oleh pihak berwenang terkait. Dalam peranya sebagai pengelola kelas, guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serat merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik adalah yang bersifat menantang, dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan. PERAN guru sebagai ujung tombak pendidikan amat strategis dalam mengembangkan potensi siswa. Karena itu penguasaan pengelolaan kelas mutlak harus dikuasai.
 Pengelolaan kelas meliputi ruang, waktu, bahan ajar bersama metode pembelajarannya serta perangkat evaluasinya. Berangkat dari penyusunan perangkat persiapan hingga terwujudnya rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang telah dicontohkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), instrumen ini sudah dapat menggambarkan keadaan kelas dan memprediksi bagaimana guru menjalankan fungsinya di depan kelas. Beranjak dari pengamatan di lapangan, RPP yang telah buat oleh beberapa guru dilihat dari sisi pengelolaan waktunya, rupanya beragam seperti yangtercantum dalam kop lembarannya. Ada yang tertulis 2 x 45 menit, ada pula 8 x 45 menit, sampai 20 x 45 menit.  Pengelolaan kelas ( classroom management ) berdasarkan pendekatan menurut Weber diklasifikasikan kedalam dua pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter dan pendekatan permisif. Berikut dijelaskan pengertian dari masing-masing pendekatan tersebut Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengkontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas  melalui penerapan disiplin secara ketat ( Weber ) Bagi sekolah atau guru yang menganut pendekatan otoriter, maka dalam mengelola kelas guru atau sekolah tersebut menciptakan iklim sekolah dengan berbagai aturan atau ketentuan-ketentuan zang harus ditaati oleh warga sekolah/ kelas.
Walaupun menggunakan pendekatan otoriter, berbagai aturan zang dirumuskan tentu saja tidak hanza didasarkan pada kemauan sepihak dari pengelola sekolah /kelas saja, melainkan dengan memasukan aspirasi dari siswa. Hal ini penting mengingat aturan zang dibuat diperuntukan bagi kepentingan bersama, zaitu untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran zang efektif dan efisien. Kedua pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas adalah uapaya zang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan untuk siswa melekukan berbagai aktivitas sesuai dengan zang mereka inginkan. Pengertian kedua ini tentu saja bertolak belakang dengan pendapat pertama. Menurut pandangan permisif, fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktivitas di dalam kelas, tanpa aharus merasa takut dan tertekan Ada lima definisi tentang pengelolaan kelas.
Definisi pertama, memandang bahwa pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Pandangan ini bersifat otoritatif. Dalam kaitan ini tugas guru ialah menciptakan dan memelihara ketertiban suasana kelas. Penggunaan disiplin amat diutamakan. Menurut pandangan ini istilah pengelolaan kelas dan disiplin kelas dipakai sebagai sinonim. Secara lebih khusus, definisi pertama ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi kedua bertolak belakang dengan definisi pertama diatas, yaitu yang didasarkan atas pandangan yang bersifat permisif. Pandangan ini menekankan bahwa tugas guru ialah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara alamiah. Dengan demikian, definisi kedua dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk memaksimalkan kebebasan siswa.
Meskipun kedua pandangan diatas, pandangan otortatif dan permisif, mempunyai sejumlah pengikut, namun keduanya dianggap kurang efektif bahkan kurang bertanggungjawab. Pandangan otoritatif adalah kurang manusiawi sedangkan pandangan permisif kurang realistik. Definisi ketiga didasarkan pada prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification). Dalam kaitan ini pengelolaan kelas dipandang sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Peranan guru ialah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement). Definisi yang didasarkan pada pandangan ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.
 Definisi keempat memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif didalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci. Dengan demikian peranan guru ialah mengembangkan iklim sosio emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dalam kaitan ini definisi keempat dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif. Definisi kelima bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok.
 Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai proses individual. Peranan guru ialah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang efektif. Definisi kelima dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif. Ketiga definisi yang terakhir tersebut diatas masing-masing bertitik tolak dari dasar pandangan yang berbeda. Manakah yang terbaik diantara ketiga definisi itu? Dari ketiga pandangan itu tidak satupun pernah dibuktikan sebagai pandangan yang terbaik. Oleh karena itu adalah bermanfaat apabila guru mampu membentuk suatu pandangan yang bersifat pluralistic, yaitu pandangan tersebut. Perlu dicatat bahwa pandangan pluralistic yang merangkum tiga dasar pandangan itu (pandangan tentang pengubahan tingkah laku, iklim sosio-emosional, dan proses kelompok) tidak mungkin merangkum juga pandangan yang bersifat otoritatif dan permisif. Pandangan yang otoritatif dan permisif itu justru dapat berlawanan dengan pandangan pluralistic yang dimaksud. Definisi yang pluralistic itu dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, mengembangkan hubungan interpersonal dan iklim sosio-emosional yang positif, serta mengembangkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif dan produktif.Guru-guru perlu memahami dan memegang salah satu definisi tersebut diatas yang akan menjadi pedoman bagi tingkah laku dan kegiatan guru didalam kelas dalam rangka mengelola kelasnya. Definisi yang lebih tepat bagi guru-guru kiranya adalah definisi yang bersifat pluralistic. Pengelolaan dan Pembelajaran Pengelolaan dan pembelajaran dapat dibedakan tapi memilki fungsi zang sama. Pengelolaan tekannya lebih kuat pada aspek pengaturan ( management ) lingkungan pembelajaran, sementara pembelajaran ( instruction ) lebih kuat berkenaan dengan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Pada akhirnya dari kedua aktivitas tersebut, keduanya dilakukan dalam rangka untuk mencapai tujuan yang sama yaitiu tujuan pembelajaran Contoh aspek pengelolaan, jika di dalam kelas terdapat gambar yang di anggap kurang baik atau tidak apada tempatnya untuk ditempelkan di dinding karena akan menggangu konsentrasi siswa dalam belajar, maka guru tersebut memindahkannya dan menempatkan pada tempat yang di anggap paling cocok. Adapun pembelajaran, jika diperoleh siswa yang mengelami kesulitan belajar untuk materi-materi tertentu, maka guru mengidentifikasi sebab-sebabnya, dan membantu siswa mengahadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya itu Komponen-Komponen Pengelolaan Kelas Pengelolaan kelas dilakukan untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran zang lebih berkualitas. Oleh karena itu pendekatan atau teori apapun zang dipilih dan zang dijadikan dasar dalam pengelolaan kelas, harus diorientasikan pada terciptanya proses pembelajaran secara aktif dan produktif. Untuk mendukung proses pembelajaran tersebut, maka aunsur-unsur pengelolaan meliputi dua tindakan, yaitu ;
1. Model tindakan
a.Preventif , yaitu upaya yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinza gangguan dalam pembelajaran. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. . Implikasi bagi guru melalui kegiatan preventif ini yaitu sedini mungkin guru mengidentifikasi hal-hal atau gejala-gejala zang dianggap akan mengganggu pembelajaran Beberapa upaya atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru untuk mendukung terhadap tindakan prteventis antara lain ;
1. Tanggap /peka, sikap tanggap ini ditunjukan oleh kemampuan guru secara dini mampu dengan segera merespon terhadap berbagai perilaku atau aktivitas yang di anggap akan mengganggu pembelajaran atau berkembangnza sikap maupun sifat negatif dari siswa maupun lingkungan pembelajaran lainnya
2. Perhatian yaitu selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun segala sesuatu zang muncul. Perhatian merupakan salah satu bentuk keterampilan dan kebiasaan zang harus dimiliki oleh guru.
b. Refrensif, keterampilan refrensif tidak diartikan sebagai tindakan kekerasan seperti halnya penanganan dalam gangguan keamanan. Keterampilan refrensif sebagai salah satu unsur dari keterampilan pengelolaan kelas
c. Modifikasi tingkah laku
• Modifikasi tingkah laku yaitu bahwa setiap tingkah laku dapat diamati. Oleh karena itu bagaimana dengan tingkah laku yang muncul dengan positif, guru memberi respon positif agar kebiasaan baik itu lebih kuat dan dapat dipelihara
• Pengelolaan kelompok, untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikutsertakan beberapa komponen atau unsur yang terkait
• Diagnisis yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsur-unsur yang menjadi kekuatan bagi peningkatan proses pembelajaran Keberhasilan guru mengajar di kelas tidak cukup bila hanya berbekal pada pengetahuan tentang kurikulum, metode mengajar, media pengajaran, dan wawasan tentang materi yang akan disampaikan kepada anak didik. Di samping itu guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Guru hendaknya dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang menguntungkan bagi anak didik supaya tumbuh iklim pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Hampir seluruh hasil survei mengenai keefektifan guru ( teacher effectiveness ) melaporkan bahwa keterampilan manajemen kelas menentukan keberhasilan proses belajar siswa atau peringkat yang dicapainya. Dengan demikian keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fudemental dalam mendukung proses pembelajaran. Guru – guru yang rendah keterampilannya dalam bidang manajemen kelas, barangkali tidak dapat menyelesaikan banyak hal yang menjadi tugas pokoknya. Pendapat ini dikemukakan oleh Brophy dan Evertson dalam Learning from Teaching, tahun 1976. Menurut beberapa pendapat yang dapat saya simpulkan konsep manajemen kelas lebih luas dari pada sebatas menciptakan iklim untuk menegakkan disiplin siswa. Konsep manajemen kelas mencakup segala hal, yaitu guru harus merangsang keterlibatan dan kerjasama siswa di dalam keseluruhan aktivitas kelas dan menata lingkungan kerja menjadi lebih produktif lagi bagi proses pendidikan dan pembelajaran. Guru yang melaksanakan manajemen kelas sebagai proses pemapanan dan pemeliharaan ( establishing and maintaining ) lingkungan belajar yang efektif cendrung lebih sukses dari pada guru – guru yang memposisikan atau memerankan diri sebagai figure otoritas atau penegak disiplin ( authority figures or disciplinarians ) belaka. Kinerja manajemen kelas yang efektif memungkinkan lahirnya roda penggerak bagi penciptaan pemahaman diri, evaluasi diri dan internalisasi control diri pada kalangan siswa. Dalam keseharian tugas dinasnya bahwa siswa paling banyak berhubungan dengan guru dan demikian juga sebaliknya merupakan perwajahan sekolah yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Dalam tugas kesehariannya, guru berhadapan dengan siswa yang berbadan tinggi, sedang atau rendah prestasi akademiknya. Ida pun juga berhadapan dengan siswa yang baik – baik, santun arogan, cuek, pengganggu bahkan kuat, sedang atau lemah fisiknya. Belum lagi keragaman tersebut dilihat dari perspektif social, ekonomi, kultur, kebiasaan, agama, kepedulian dan derajat kohensifitasnya dan lain sebagainya. Siswa yang bermasalah biasanya menjadi beban si guru dalam mengajar di kelas dan merupakan kepedulian tindakan yang menjadi beban dari tugas si guru. Bentuk kenakalan dan prilaku menyimpang para siswa beragam, dari permasalah sampah,berisik dikelas, mencuri, berkelahi, bolos, pecandu narkoba, dan tidak disiplin dalam belajar. Mengapa siswa cendrung berprilaku buruk? Ada banyak faktor penyebab hal tersebut, antaranya adalah faktor sosial, ekonomi, kultural, agama, jenis kelamin, ras, tempat tinggal, perbedaan potensial kognitif, kesehatan, kebiasaan hidup dan lain – lain. Faktor yang lain adalah penyebabnya yaitu sekolah sendiri. Tidak semua sekolah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran secara kondusif, misalnya adalah sekolah lebih dekat dengan tempat keramaian, bangunan yang sudah terlalu tua, ruang kelas yangmengundang gerah, disiplin guru yang tidak memadai, manajemen sekolah yang buruk, terlalu banyak pungutan dan lain sebagainya.Ini berarti ada tantangan serius bagi sekolah. Kedua, menetapkan tata aturan dan prosedur disiplin yang jelas dan standar, serta mengikat semua anak didik.Ketiga, melembagakan dan memberi keteladanan mengenai norma – norma etik yang menjadi pemandu hubungan antar subjek di lingkungan sekolah.
Dari semua hal tersebut diatas, mari kita lihat pengelolaan kelas di SMP PGRI Bojonegara pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VII dan VIII semester 1 dapat diketahui bahwa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP PGRI Bojonegara guru memberikan reward kepada siswa yang bisa dikatagorikan sebagai siswa yang terpandai dikelas dengan memberikan ranking kepada siswa yang pandai tersebut, hal itu dilakukan agar para siswa termotivasi untuk mendapat nilai yang baik dikelas agar mereka bisa memperoleh ranking atau reward yang ada. Reward bukan hanya diberikan dalam bentuk pemberian ranking terhadap murid pandai saja, namun juga dilakukan dengan cara memberi aplouse kepada siswa yang bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru ketika penyampaian materi. Hal itu dilakukan agar menciptakan suasana aktif dan kondusif yang memancing para siswa untuk terus aktif dikelas.
E.KONTENSASI KELAS
1. Intristik kelas
Di dalam kelas terdapat struktur organisasi yang dimulai dari Ketua Kelas, Wakil ketua Kelas, Sekertaris, Bendahara, dan seksi kebersihan. Mereka dipilih langsung oleh para siswa. Dengan cara voting, jabatan itu berlaku selama satu tahun selama masa KBM. Dan tugas dibagi berdasarkan hak jabatan masing-masing.
2. Ekstrinstik kelas
Di SMP PGRI Bojonegara tidak terdapat kontensasi kelas yang termasuk dalam jenis ekstrinstik kelas.
  
KESIMPULAN
Dari observasi yang kami lakukan di SMP PGRI Bojonegara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VII dan VIII semester 1 dapat diambil kesimpulan bahwa guru matapelajaran bahasa Indonesia di SMP tersebut menggunakan system pendekatan individu di dalam kelas, yakni guru mendekati para siswa dikelas karena di smp ini adalah termasuk kedalam masyarakat homogeny sebab berada di pedesaan. Sehingga memudahkan guru untuk melakukan interaksi lebih spesifik terhadap siswa dikelas, hal itu diharapkan agar siswa merasa nyaman untuk mengikuti pelajaran bahasa Indonesia dikelas. Gurupun rutin memberikan pertanyaan pada saat proses KBM dikelas agar anak murid menjadi aktif, guru juga memberikan tugas individu, serta kelompok pada saat KBM, agar siswa tetap mengingap materi yang guru sampaikan. Dari semua ini dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan guru sangatlah besar bagi proses belajar mengajar dikelas.

1 komentar: